Minggu, April 14, 2024

Berfikir-Bergerak-Bertindak

Opini

Kesetaraan Gender: Upaya Perlawanan Perempuan Terhadap Belenggu Budaya Patriarki

Perempuan dalam Belenggu Budaya Patriarki 

Meluasnya budaya patriarki di kalangan masyarakat yang selalu memposisikan kaum laki-laki sebagai garda terdepan dalam setiap hal tentunya memberikan kesan yang merugikan bagi kaum perempuan. Keberadaan kaum perempuan serasa dipinggirkan bahkan dibelenggu haknya akibat budaya ini. Sadar atau tidak kini budaya patriarki masih menjadi konstruksi sosial dari dulu hingga sekarang. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya ketimpangan hubungan antara laki-laki dan perempuan, dimana kaum perempuan selalu dinomor dua kan setelah laki-laki. Budaya seperti ini lah yang menjadi cikal bakal terjadinya perlakuan diskriminasi, marjinalisasi, bahkan kekerasan dan tidak menutup kemungkinan akan terus membelenggu kebebasan dan melanggar hak-hak perempuan.

Sebenarnya perbedaan gender tidak akan menjadi masalah krusial jika tidak ada diskriminasi dan ketidaksetaraan gender. Akan tetapi fakta hari ini menunjukkan bahwa perbedaan gender saat ini telah menimbulkan ketidakadilan gender. Hal ini terlihat dari mayoritas kaum perempuan yang menjadi korban, sedangkan kaum laki-laki banyak mengambil keuntungan dari kehidupan yang tidak adil tersebut. Artinya, saat ini budaya patriarki telah berdampak negatif terhadap ketimpangan gender yang dihadapi perempuan. Dimana posisi perempuan masih dipandang rendah dan tidak berharga sehingga diperlakukan dengan semena-mena. Akibatnya, perempuan kerap mengalami perilaku yang bersifat diskriminatif di masyarakat.

Terutama dalam bidang pendidikan, di mana masih terdapat stigma yang mengatakan bahwa perempuan tidak harus kuliah untuk menggapai cita-citanya, karena mau setinggi apa pun pendidikan perempuan itu, pasti akhirnya akan stuck di dapur, dengan mengurus anak dan suami dirumah. Sampai-sampai ada istilah jawa yang mengatakan bahwa perempuan itu kodratnya hanya 3M, yaitu masak (memasak), manak (melahirkan), maca’ (berhias). Najwa Shihab mengatakan kodrat perempuan itu memang benar 3M, namun 3M itu bukan masak, manak, maca’ akan tetapi 3M itu adalah meliputi Menstruasi, Melahirkan, dan Menyusui. Ketiga hal inilah yang menjadi kodrat dari perempuan dan tidak akan pernah bisa dimiliki laki-laki. Di luar ketiganya, semua hal bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. 

Belum lagi ada permasalahan peran ganda yang dialami oleh perempuan, peran ganda ini dapat terlihat pada seorang perempuan atau istri yang bekerja di luar rumah sehingga mereka harus berupaya untuk menyeimbangkan kehidupan rumah tangganya dan pekerjaan yang dijalaninya. Keadaan tersebut tentu saja memberikan dua tugas bagi perempuan, sedangkan laki-laki hanya terbiasa mencari nafkah. Dengan demikian, pekerjaan rumah tangga seperti memasak, bersih-bersih, dan sebagainya boleh dilakukan oleh siapa saja, termasuk laki-laki sekali pun dan juga merupakan tanggung jawab seluruh anggota keluarga.

Ketimpangan gender juga terjadi di berbagai bidang kehidupan sosial, dimana posisi laki-laki lebih diprioritaskan dibandingkan perempuan. Contohnya adalah marginalisasi di tempat kerja, di mana terdapat kesenjangan upah berdasarkan gender dan rata-rata perempuan dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki. Perempuan melakukan pekerjaan rumah tangga dalam jumlah yang tidak proporsional seperti pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak. Perempuan tampak lebih miskin dibandingkan laki-laki, terutama seiring bertambahnya usia. Laki-laki mempunyai kekuasaan politik yang tidak proporsional, dimana laki-laki menjadi anggota parlemen dan laki-laki memegang kekuasaan sebagai pemimpin.

Di sisi lain, insiden kekerasan juga melengkapi dan melanggengkan budaya patriarki. Hingga saat ini masih banyak orang yang menganggap bahwa perempuan itu lemah dan tidak sekuat laki-laki. Pada bagian ini dominasi laki-laki terlihat jelas karena budaya patriarki menciptakan struktur sosial yang menjadikan perempuan lemah dan dapat dirugikan baik secara mental maupun fisik. Bagi laki-laki, pentingnya perbedaan biologis secara sosial mengarah pada penguatan mitos, stereotip, aturan, dan adat istiadat yang merendahkan perempuan, dan kemungkinan terjadinya dalam keluarga dan hubungan pribadi dan hal ini tentunya mendorong terjadinya kekerasan.

Peran Kesetaraan Gender sebagai Upaya Perlawanan perempuan terhadap budaya patriarki 

Seiring berjalannya waktu dengan fenomena di atas telah menyadarkan dan mendorong kaum perempuan untuk melepaskan diri dari belenggu budaya patriarki. Kesetaraan gender menjadi salah satu upaya perlawanan bagi kaum perempuan untuk meruntuhkan budaya patriarki yang telah mengakar kuat dalam masyarakat. Kesetaraan gender merupakan gerakan yang digaungkan oleh kaum feminisme guna menentang adanya ketimpangan gender. Feminisme sendiri merupakan paham yang mengupayakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan guna mencapai persamaan hak yang tidak ada akibat hadirnya budaya patriarki dalam politik, pendidikan, kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan pembangunan. 

Sejarah bangsa telah menunjukkan bahwa perempuan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan, berkarir di luar rumah, atau ikut serta dalam birokrasi. Hal ini menunjukkan betapa gigihnya perjuangan R.A. Kartini merupakan gerakan yang memperjuangkan emansipasi perempuan di bidang pendidikan. Saat ini perempuan bisa belajar dengan bebas, namun setelah menikah mereka perlu membagi peran. Faktanya, bias gender seperti ini disebabkan oleh struktur masyarakat yang sangat terstruktur, dan betapapun aktifnya gerakan feminis di Indonesia, sulit untuk menghilangkan budaya patriarki yang sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu kesetaraan gender berperan penting dalam upaya pembangunan negara dan penegakkan hak asasi manusia, sebab tujuan tujuan dari Kesetaraan Gender adalah agar setiap orang memperoleh perlakuan yang sama dan adil dalam masyarakat, baik dalam bidang politik, di tempat kerja, atau bidang yang terkait dengan kebijakan tertentu. Hal ini menegaskan bahwa para perempuan pada hakikatnya mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Sehingga, dengan ini perempuan harus bisa menempatkan dirinya secara strategis berdasarkan peran yang dipegangnya masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *