Minggu, April 14, 2024

Berfikir-Bergerak-Bertindak

Opini

Sketsa PMII Ideal: Pemikiran Kritis dan Insting Gerakan Sosial

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) organisasi pengkaderan. PMII didirikan di Surabaya oleh 14 pendiri pada 17 April 1960. Dengan berasaskan pancasila dan berideologi Islam Ahlussunah Wal Jamaah, PMII merupakan wadah perjuangan, kreatifitas dan aktualisasi diri bagi semua warga dan kader. Sebagai organisasi tentunya PMII memiliki tujuan. Adapun yang menjadi tujuan PMII sebagaimana termaktub di Bab IV Pasal 4 Anggaran Dasar PMII yang berbunyi “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”.

PMII sebagai organisasi memiliki tiga bentuk kaderisasi, yakni kaderisasi secara formal, non formal dan informal. Tiga kaderisasi ini merupakan titik tumpu utama dalam membina dan mendidik warga dan kader PMII. Dalam satu dekade terakhir, berkat pengkaderan yang dilakukan secara serius PMII telah banyak melahirkan kader-kader yang berkualitas secara intelektual maupun spriritual. Seacara kuantitas PMII juga sangat membanggakan. Terbukti PMII hari ini memiliki kepungurusan di 1651 Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta.

Tantangan PMII

Seiring dengan berjalannya waktu, PMII juga dihadapkan pada berbagai tantangan dan dinamika. Salah satu tantangan utama yang dihadapi PMII adalah kekhawatiran akan arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang membawa pengaruh pada pemikiran-pemikiran yang serba praktis serta sifat individualistik. Tantangan lain yang dihadapi oleh PMII adalah adanya polarisasi dikalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia.

Atas pemasalahan PMII secara global diatas, pengurus struktural akar rumput (Rayon-Komisariat) yang bertugas mendidik dan mencerdaskan kader tentunya memiliki beban yang lebih tinggi, tidak terkecuali Pengurus PMII Komisariat Jurai Siwo Metro. Hari ini Komisarat Jurai Siwo Metro memiliki 13 Rayon dengan jumlah warga dan kader ratusan disetiap angkatannya. Fakta yang menggembirakan secara kuantitas, namun belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas kadernya hari ini.

Kualitas kader yang tidak cepat membaik salah satu penyebabnya adalah semakin merosotnya budaya kehidupan intelektual. Dengan semakin banyaknya informasi dan bacaan yang tersedia diinternet justru lingkungan PMII Komisariat Jurai Siwo Metro sudah semakin jarang adanya lingkaran-lingkaran kader yang mendiskusikan pengetahuan sebagai modal berfikir kritis. Kita tidak boleh lupa bahwa Ketua Umum Pengurus Besar PMII pertama adalah seorang kolomnis jago yang dikenal cinta ilmu pengatahuan. Perlu bagi kita selaku kader PMII di era sekarang mewarisi semangat intelektual beliau. Karena sesungguhnya, dengan budaya literasi, kita akan mampu memfilter segala informasi di era disrupsi hari ini.

Atas kenyataan diatas, bukan dalam artian Pengurus PMII Komisariat Jurai Siwo Metro hanya pasrah dengan keadaan. Pengkaderan harus terus dilakukan dengan berdasarkan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang digali serta dikembangkan dari pemahamannya atas kenyataan, keberadaan, dan dimensi-dimensi lngkungan strategis. Karenanya pendidikan kader melalui pengembangan potensi akal, kemampuan fisik, moral dan kepekaan sosial harus senantiasa terus dilakukan. hakekatnya pengkaderan adalah kawah candradimuka bagi pembentukan kader.

Penguatan Nalar Kritis dan Insting Gerakan Sosial Kader

Individu-individu yang membentuk komunitas PMII dipersatukan oleh kontruks berfikir yang ideal sebagai seorang manusia. Kenapa demikian? karena secara ideologis, PMII merumuskannya sebagai Insan Ulul Albab. Ulul Albab secara umum bisa didefinisikan sebagai seorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan (oalah pikir) yang diimbangi dengan dzikir. Dengan sangat jelas citra Ulul Albab disarikan dalam moto PMII dzikir, fikir, amal sholeh. Dengan berpedoman pada citra diri PMII, kemampuan kader dalam berfikir kritis sangatlah penting untuk menghadapi era disrupsi seperti saat ini.

Individu-individu PMII juga diersatukan dalam arena gerakan. Sesuai dalam filosofi dari kata “Pergerakan” yang bisa dimaknai sebagai ikhtiar seorang hamba yang senantiasa bergerak untuk mencapai tujuan idealnya untuk merahmati alam semesta. Melalui proses pengkaderan dalam arena gerakan, insan-insan pergerakan akan menjadi luas pengetahuan dan wawasannya, serta mempunyai semangat dalam menjalankan tugasnya sebagai makhluk sosial untuk melawan ketidakadilan dan membebaskan masyarakat dari taghut.

Atas dasar pemikiran diatas, maka Panitia Pelaksana Pelatihan Kader Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Jurai Siwo Metro mengambil tema “Sketsa Ideal PMII: Pemikiran Kritis dan Insting Gerakan Sosial”. Harapannya, melalui forum kaderisasi formal Pelatihan Kader ini mampu melahirkan kader yang kritis secara pemikiran dan mempunyai kepekaan atas problematika kehidupan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *